Urban Farming, Cara Berkebun ‘Kekinian’ Bisa Hasilkan Cuan

Eratani / 21 Juli 2022

Konsep pertanian perkotaan atau urban farming banyak dilakukan masyarakat dewasa ini sebagai solusi dari semakin berkurangnya lahan terbuka hijau. Melalui konsep pertanian ini, masyarakat bisa memanfaatkan lahan yang terbatas menjadi lebih produktif.

Kegiatan ini juga penting untuk solusi kebutuhan pangan masyarakat di masa mendatang, terutama masyarakat di daerah perkotaan. Selain bermanfaat untuk memanfaatkan lahan perkotaan, ternyata urban farming ini bisa mendatangkan keuntungan besar.

​​Berdasarkan data pendapatan pertanian vertikal di dunia pada 2018 berdasarkan teknologi, pertanian hidroponik bisa mencapai USD 1,17 miliar, aquaponik mencapai USD 452,5 juta, aeroponik USD 305,9 juta, dan metode lainnya sebesar USD 589,5 juta. Hal ini dikonfirmasi Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo saat mengunjungi perkebunan hidroponik milik PT Asabi di Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat, Minggu 18 Oktober 2020 yang menyebutkan bahwa dengan lahan seluas 500 meter, penghasilan dari produksi dan penjualan sayur bisa menghasilkan Rp40 juta per bulan.

Tertarik dengan peluangnya? Simak berbagai metode urban farming di bawah ini:


1. Aquaponik
Akuaponik merupakan sistem pertanian yang mengombinasikan hidroponik dan akuakultur, atau budidaya perikanan. Terdapat 3 komponen biologis dalam penerapan aquaponik, yaitu ikan, tanaman, dan bakteri. Tanaman hidroponik dan budidaya ikan bekerja sama membentuk simbiosis mutualisme. Air yang digunakan untuk budidaya ikan berguna sebagai pupuk bagi tanaman. Sementara tanaman membantu membersihkan air sehingga ikan dapat hidup dengan optimal. Tanaman yang cocok untuk menggunakan metode ini antara lain kangkung, pakcoy, selada dan juga jenis ikan seperti lele, nila, dan ikan mas.


2. Hidroponik
Hidroponik merupakan metode pertanian yang menggunakan air sebagai media tanam pengganti tanah. Metode ini merupakan solusi bagi petani yang memiliki akses air yang terbatas atau kondisi tanah yang minim nutrisi.Cukup banyak sayuran dan buah-buahan yang bisa ditanam dengan sistem hidroponik. Jenis sayuran yang paling umum seperti pakcoy, kangkung, basil, oregano dan masih banyak lagi.


3. Vertikultur
Vertikultur berasal dari Bahasa Inggris, yaitu vertikal dan culture. Vertikultur merupakan teknik bercocok tanam di ruang atau lahan sempit. Metode ini dengan memanfaatkan bidang vertikal sebagai tempat bercocok tanam yang dilakukan bertingkat. Sistem vertikultur dapat dilakukan dengan menanam di pot, polybag, pipa paralon, botol bekas, maupun ban bekas, sehingga mampu membantu mengurangi permasalahan sampah.


4. Wall Gardening
Pada dasarnya metode wall gardening hampir sama dengan metode vertikultur. Hanya saja, bedanya hanya pada dinding sebagai media tanam. Tanaman yang cocok untuk menggunakan cara ini antara lain tomat, cabai, umbi-umbian dan berbagai jenis tanaman hias. Metode ini sangat mudah, lantaran bisa diterapkan pada dinding rumah atau halaman belakang kita yang terkena sinar matahari.

Kini, urban farming tidak hanya diterapkan di wilayah perkotaan, namun juga ke daerah pedesaan yang lahan pertaniannya semakin tergerus. Masyarakat dapat memaksimalkan potensi lahan yang terbatas untuk menjadi sumber penghasilan dan dapat membuka lapangan pekerjaan. 

Referensi: Tirto, Pikiran Rakyat, Pop Mama
 

Daftar Sebagai Petani
Bagikan Postingan Ini

Lihat Tips Lainnya

Bingung Nyari Kerjaan? Jadi Petani Milenial Aja!

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 7 juta tenaga kerja Indonesia menganggur. Padahal ada banyak pilihan kerja, namun banyak yang terhalangi oleh tingkat persaingan yang cukup tinggi. Bagi kamu yang bingung harus mencari pekerjaan kemana lagi, cobalah untuk masuk ke sektor pertanian. Walaupun sering dianggap kuno, profesi petani dinilai dapat menjadi alternatif pekerjaan yang menjanjikan. Khususnya bagi generasi muda yang mau terjun menjadi petani milenial. Generasi muda juga memiliki peluang yang besar untuk bisa terjun ke dunia pertanian karena dianggap memiliki kredibilitas yang tinggi dalam hal ekonomi dan memanfaatkan teknologi. Tak hanya itu, generasi muda juga dituntut untuk cerdas berwirausaha tani dengan memanfaatkan teknologi digital. Jadi bukan hanya berkutat untuk bertani saja. Hal ini terbukti dengan banyaknya start-up milenial pertanian yang tembus hingga ke pasar dunia.  Peluang lainnya berkaitan dengan keadaan pandemi, dimana masyarakat membutuhkan pangan yang lebih mudah didapatkan, sehat, dan terjamin keamanannya. Untuk bisa memenuhi hal tersebut tentunya dibutuhkan peran petani milenial untuk memanfaatkan teknologi secara kreatif untuk membuat packaging bahan pangan yang aman. Begitu pula dengan pendistribusian bahan pangan yang akan lebih efektif apabila dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Alasan lain kenapa petani milenial menjadi peluang profesi yang menjanjikan ialah kondisi dimana sektor pertanian saat ini sedang dibutuhkan bukan hanya oleh negara Indonesia tapi juga dunia. Seperti yang kita ketahui, keadaan pandemi mendorong kebutuhan ketersediaan bahan pangan meningkat sedangkan jumlah petani di setiap tahunnya semakin berkurang. Dalam kondisi ini pemerintah juga berusaha untuk mendorong generasi muda khususnya yang masih belum mendapatkan pekerjaan untuk lebih berani terjun ke dunia pertanian dengan menjadi petani milenial yang cerdas.  Referensi: IDN Times  

Eratani / 21 Juli 2022

Membuat Pupuk Kompos Alami dari Sampah Dapur? Ini Caranya!

Apakah kamu pernah membayangkan kalau sampah dapur ternyata bisa berguna? Ya, ternyata kulit buah dan sisa batang sayuran bisa digunakan sebagai pupuk. Jadi tidak perlu membeli pupuk lagi kan? Tinggal gunakan sampah-sampah dari dapurmu saja! Kali ini Eratani akan membagikan cara membuatnya, jangan lupa untuk disimak ya! 1. Memilah jenis sampah. Hanya jenis sampah tertentu saja yang bisa digunakan sebagai pupuk, yaitu sisa sayuran, sisa makanan, kertas bekas, tisu, daging, kulit buah, buah-buahan yang telah tidak layak dikonsumsi, dan bumbu dapur yang telah kedaluwarsa. 2. Menyiapkan wadah besar. Kita memerlukan wadah besar beserta tutupnya. Di sini kita bisa menggunakan ember bekas cat yang sudah tak terpakai. Wadah bertutup ini nantinya akan menjaga pupus kompos agar tidak terkontaminasi oleh hewan dan air hujan. 3. Menyiapkan bahan tambahan. Kita juga perlu menyiapkan bahan tambahan seperti tanah, air, cairan pupuk untuk kompos, arang, dan sekam. Salah satu contoh jenis cairan yang bisa dipakai ialah pupuk cair EM4. 4. Membuat pupuk. Langkah pertama adalah dengan mencampurkan tanah, sekam, dan arang. Kemudian masukkan sampah organik yang telah dikumpulkan sebelumnya lalu timbun dengan tanah campuran sebanyak sampah yang ada. Siramlah dengan air yang telah dicampur dengan pupuk cair hingga lembab. Lakukan secara berulang tanpa menambahkan siraman air hingga campuran tersebut berbentuk lapisan, sampai tanah dan sampah organik habis.  Pupuk kompos hasil dari sampah dapur buatanmu siap digunakan untuk menyuburkan tanaman yang kamu miliki! Referensi: IDN Times  

Eratani / 21 Juli 2022