Lebih dari Sekadar Media Tanam, Inilah Mengapa Tanah adalah Aset Utama dalam Produksi Padi

Eratani / 25 Februari 2026

Banyak yang menganggap tanah hanyalah tempat untuk menanam bibit. Namun, jika ditinjau dari sisi agronomi dan ekonomi, tanah adalah aset produksi utama yang menentukan efisiensi input, stabilitas hasil, hingga keberlanjutan usaha tani.

Realita Produktivitas Padi Nasional

Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 hingga 2025 menunjukkan bahwa rata-rata produksi padi nasional berada pada kisaran 5,1 hingga 5,3 ton GKG per hektar. Menariknya, di tingkat lapangan, produktivitas justru sangat bervariasi, mulai dari 3 ton hingga 7 atau 8 ton per hektar. Perbedaan hasil yang cukup lebar ini sering kali tidak ditentukan oleh varietas unggul atau besarnya dosis pupuk semata, melainkan oleh kualitas kesehatan tanah sawah itu sendiri.

Tantangan Efisiensi Pupuk

Tanaman padi setidaknya membutuhkan 100 hingga 150 kg nitrogen per hektar setiap musim untuk mencapai hasil optimal. Namun, efisiensi serapan pupuk di lapangan umumnya hanya mencapai 30 hingga 50 persen. Sebagian besar pupuk yang diaplikasikan sering kali tidak termanfaatkan secara optimal karena hilang melalui penguapan (volatilisasi), denitrifikasi, atau pencucian.

Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh kualitas tanah, khususnya kandungan bahan organik dan kapasitas tukar kation. Banyak lahan sawah intensif saat ini memiliki kadar bahan organik di bawah 2 persen, yang menyebabkan efisiensi pemupukan menjadi rendah. Sebaliknya, peningkatan bahan organik sebesar 1 persen saja dapat memperbaiki retensi hara dan air secara signifikan, sehingga pupuk bekerja lebih efektif dan biaya produksi menjadi jauh lebih rasional.

Dampak Kesehatan Tanah bagi Hasil Panen

Memperbaiki kualitas tanah adalah langkah nyata untuk mencapai hasil yang maksimal. Berbagai studi menunjukkan bahwa tanah yang sehat dapat meningkatkan produktivitas padi sebesar 5 hingga 15 persen. Sebagai gambaran, jika rata-rata panen mencapai 5 ton per hektar, kenaikan 10 persen setara dengan tambahan 500 kg gabah. Dengan harga gabah Rp5.500 per kilogram, nilai manfaatnya mencapai Rp2,75 juta per hektar di setiap musim tanam. Hal ini menunjukkan bahwa merawat kesehatan tanah sangat berpengaruh pada efisiensi dan hasil akhir usaha tani.

Agar potensi hasil tersebut dapat tercapai, pengelolaan lahan perlu dilakukan secara lebih terencana. Di Eratani, kesehatan tanah menjadi fokus utama untuk menjaga stabilitas hasil sekaligus menekan risiko gagal panen. Melalui pengecekan kondisi tanah secara berkala, kebutuhan nutrisi tanaman dapat dipetakan dengan tepat sehingga dosis pemupukan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. Dengan pola budidaya yang lebih terukur seperti ini, produktivitas lahan tidak hanya meningkat, tetapi juga lebih stabil di setiap musimnya.

Sumber: Adaptasi dari pemikiran Haidar Fari Aditya, SP. MP. (Assistant Professor Ilmu Tanah, UPN "Veteran" Jawa Timur).

Bagikan Postingan Ini

Lihat Artikel Lainnya