Berkolaborasi dengan Eratani, PP Urban Gelar Kegiatan CSR sebagai Wujud Kepedulian Kesehatan Wanita Tani

Eratani / 27 Agustus 2024

Menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia, Eratani dan PT PP (Persero) Tbk merealisasikan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang ditujukan khusus untuk petani wanita binaan Eratani di Desa Belendung, Kabupaten Karawang. Program ini mencakup serangkaian kegiatan berupa sosialisasi deteksi dini untuk hidup sehat, medical check up, serta pembagian paket sembako kepada 100 petani wanita Eratani. Inisiatif ini mencerminkan semangat kemerdekaan sekaligus komitmen Eratani dan PT PP (Persero) Tbk dalam mempromosikan pentingnya kesehatan dan kesejahteraan petani Indonesia.

“Sebagai bagian dari perayaan HUT ke-71 PT PP, kami percaya bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab untuk aktif berkontribusi memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Melalui program CSR ini, PT PP (Persero) Tbk berkomitmen untuk meningkatkan kesehatan dan membantu mereka yang membutuhkan, serta memperkuat hubungan dengan komunitas lokal. Kami berharap inisiatif ini dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan dan membawa kebahagiaan bagi banyak orang,” ujar Fuad Prabowo, Direktur Utama PT PP Urban, selaku Ketua Koordinator CSR HUT PP ke-71.


Andrew Soeherman, CEO Eratani, menambahkan, “Eratani memiliki komitmen yang kuat terhadap kesejahteraan petani wanita binaan kami. Melalui kegiatan ini, kami bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan mereka, terutama dalam hal kesehatan. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Eratani untuk memberdayakan petani wanita di seluruh Indonesia yang dimulai dari komunitas Sang Rani. Kami juga menyampaikan apresiasi kepada PT PP (Persero) Tbk atas dukungan yang diberikan dalam kegiatan ini. Selamat ulang tahun ke-71 untuk PT PP (Persero) Tbk, semoga sukses dan terus menjadi inspirasi bagi banyak pihak.”

Share This Post

Lihat Artikel Lainnya

Beda dari yang Lain, Petani Muda Ini Gandrungi Budidaya Empon-Empon

Muhamad Atik Rudianto, pria berusia 25 tahun asal desa Karang Gede, Kecamatan Arjosari, Pacitan yang memilih pilihan hidup menjadi seorang petani muda. Ia ini menentukan pilihan pada sektor pertanian sebagai bisnisnya, satu diantaranya dengan budidaya empon-empon. Rudi membudidayakan berbagai rempah dapur atau empon-empon seperti lengkuas, temulawak dan kunyit. Ia membaca peluang bisnis empon-empon masih cukup prospektif. Awal mulai usahanya ini ketika Rudi dan ayahnya pada suatu waktu mengunjungi lahan pertanian miliknya yang memiliki luas sekitar 0.5 Ha dan melihat masih banyak lahan yang menganggur.  Lantas ia berpikir bahwa ini bisa menjadi kesempatan yang bagus bagi anak muda sepertinya. Sebab, saat ini tidak banyak anak muda yang melirik sektor pertanian sebagai lahan bisnis. Rudi dan sang Ayah memulai usaha ini sejak tahun 2018 dengan penuh semangat. Setiap panen Rudi mampu menghasilkan empon-empon sekitar 5 – 9 kwintal. Omzet kotor hingga Rp2-2,5 juta. Rudi mengatakan, bahwa budidaya empon-empon ini terbilang mudah karena perawatannya tidak sulit dan kecil kemungkinan gagal panen. Rudi yang juga berprofesi sebagai GTT (Guru Tidak Tetap) di salah satu SD di desanya ini juga sempat bercerita saat dia memulai membudidayakan empon-empon. Menanam lengkuas menjadi pilihannya karena tidak memerlukan modal terlalu besar ketimbang jenis empon-empon lainnya. Setelah lengkuas Ia lantas menanam kunyit dan temulawak. Usahanya ini masih terus berkembang, saat ini juga mulai menanam jahe di sebagian lahan miliknya.  Di masa pandemi seperti saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit orang yang mencari tanaman herbal atau minuman herbal berkhasiat lainnya untuk dikonsumsi guna meningkatkan imunitas tubuh. Pengetahuan tradisional dalam memanfaatkan tanaman sebagai sumber obat-obatan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Jamu berkembang berdasarkan pengalaman kumulatif dalam pengobatan masyarakat sejak zaman nenek moyang kita. Perkembangan obat tradisional semakin pesat juga karena ditunjang dengan pendekatan ilmiah untuk pembuktian khasiat, keamanan, maupun teknik pengolahannya. Rudi bersyukur bahwa di era yang seperti ini dengan status usia yang masih terbilang muda, ia mampu melihat peluang untuk mengembangkan bisnisnya untuk meningkatkan perekonomian keluarganya.  Referensi: Halo Pacitan, BPTP Balitbangtan Kalimantan Selatan  

Eratani / 21 Juli 2022

Favoritt Warga +62, Ini Alasan Orang Suka Makan Nasi

Indonesia merupakan negara yang kaya dan penuh akan sumber daya alam. Mulai dari kebutuhan primer, sekunder, dan tersier kita, semua dapat kita nikmati karena adanya keindahan warisan dari negara kita. Salah satunya adalah beras. Nasi sudah menjadi makanan pokok untuk rakyat Indonesia turun temurun. Setiap hari dan dalam bentuk apapun, masyarakat Indonesia mengolah berbagai jenis hidangan berbahan dasar nasi. Bahkan seringkali kita mendengar ungkapan, bahwa orang Indonesia “belum kenyang jika belum makan nasi”. Hal ini menunjukan, bahwa budaya mengkonsumsi nasi merupakan sebuah kewajiban untuk rakyat Indonesia. Tapi kira kira, kenapa rakyat Indonesia memilih nasi sebagai makanan pokok? Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan hamparan sawah yang luas di pulau-pulaunya. Indonesia berhasil memanen padi dalam jumlah yang tinggi. Nasi adalah makanan termudah yang ditemukan orang Indonesia. Adapun ketersediaan padi dan beras yang berlimpah di Indonesia juga merupakan dampak dari orde baru yang terjadi pada tahun 1970 hingga 1980. Saat itu, pemerintah di masa orde baru memberikan investasi besar untuk sektor pertanian. Tidak heran sejak saat itu produksi beras dan padi berlimpah di Indonesia. Hal ini pun menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Ada banyak manfaat dari mengonsumsi nasi karena nasi merupakan sumber energi dan mengandung tiamin yang berguna untuk membantu metabolisme karbohidrat. Selain itu, nasi juga mengandung magnesium sebagai komponen penting dalam membentuk struktur tulang dan juga dapat mengatur kontraksi otot. Namun, tetap saja ada resiko dari kebiasaan mengkonsumsi nasi secara berlebihan. Nasi putih merupakan jenis nasi yang paling banyak beredar di Indonesia. Perlu diketahui bahwa mengkonsumsi nasi putih yang berlebih dapat memicu kenaikan berat badan bahkan menyebabkan diabetes. Maka dari itu, sangat disarankan untuk mengontrol porsi makan nasi terutama bagi lansia. Referensi: Kompas, Tribun Style

Eratani / 21 Juli 2022

Ayo Mulai Hargai Jasa Petani Indonesia, Karena Mereka Perut Kita Terpenuhi

Di jaman sekarang, pernahkah kamu mendengar ada anak yang ketika ditanya cita-citanya ia menjawab dengan lantang ingin menjadi seorang petani? Rasanya sudah tidak pernah lagi terdengar. Di dalam kedudukan sosial, seorang petani kerap ditempatkan di posisi yang rendah. Pernahkah kamu merasa miris akan hal ini? Bukankah selama ini merekalah yang bekerja keras di bawah terik matahari demi sebutir nasi berkualitas untuk mengisi perut kita? Bukankah apa yang mengisi perut kita setiap harinya berasal dari mereka? Lalu pernahkah kita menghargai jasa mereka? Bukan hanya nasi, tapi juga sayuran dan buah-buahan yang kita konsumsi berasal dari kerja keras para petani. Di mulai dari menanam benih hingga tumbuh dan siap untuk dipanen. Lebih parahnya lagi, mayoritas petani Indonesia tidak memiliki lahan mereka sendiri untuk bertani. Sementara itu, sebagian besar dari kita lebih suka dan bangga terhadap bahan pangan impor yang kita beli sebagai wujud dari gaya hidup modern. Dilihat dari segi kualitas, tentu bahan pangan dari Indonesia yang dihasilkan oleh para petani Indonesia juga tidak kalah saing dengan kualitas dari luar. Bahkan pekerjaan sebagai petani terancam punah di Indonesia. Miris sekali bukan? Padahal Indonesia adalah negara berlabel agraris. Banyak generasi muda tidak ingin menjadi petani karena dianggap kurang bergengsi. Padahal petani adalah pekerjaan yang sangat mulia dengan segala jasa yang mereka lakukan. Mereka adalah pahlawan bagi perut kita, bagi hidup kita. Karena hanya mereka yang rela bekerja keras setiap harinya di bawah terik matahari hanya demi menghasilkan bahan pangan untuk negara. Mulai saat ini, ayo kita hargai jasa mereka dengan membeli bahan pangan dari Indonesia. Karena mereka kita bisa kenyang, begitu pula sebaliknya, dengan kita membeli hasil pangan dari Indonesia maka mereka juga akan bisa kenyang dan hidup lebih layak. Referensi: IDN Times  

Eratani / 21 Juli 2022

Jatu Barmawati: Si Petani Milenial yang Inspiratif

Jatu Barmawati adalah seorang wanita berusia 29 tahun yang lahir di pinggiran kota Lampung. Ia terlahir sebagai seorang anak petani dan hal inilah yang membawa langkah Jatu hingga bisa menjadi petani milenial yang inspiratif. Tumbuh besar dengan melihat usaha pertanian yang dikelola oleh ayahnya membuat Jatu memberanikan diri untuk turut terjun ke dunia pertanian. Dimulai dari mengambil jurusan pertanian hingga sekarang ia mampu menjadi eksportir wanita muda yang terbilang sukses. Kisah sukses Jatu Barmawati seolah menepis anggapan miring mengenai profesi petani yang identik dengan kata kuno, kotor, kumuh, dan berpenghasilan kecil. Sejak lulus kuliah, Jatu juga bertekad untuk merubah image miring mengenai profesi petani dan menganggapnya sebagai sebuah tantangan, motivasi, dan peluang untuk mengembangkan diri serta merubah mindset tersebut. Hal ini terbukti dengan Jatu yang berhasil menjadi seorang wirausaha pertanian milenial dengan sukses mengekspor manggis ke wilayah Eropa. Jatu Barmawati menganggap bahwa pertanian adalah sektor yang sustainability sexy yang mana semakin ditekuni, semakin membuat penasaran dan menggairahkan. Ia menilai bahwa hasil panen komoditas pertanian Indonesia memiliki kualitas yang baik dan tidak kalah saing dengan negara lain. Kesuksesan Jatu dalam mengekspor manggis ke Eropa khususnya Belanda, menjadikannya terpilih sebagai salah satu dari 67 Duta Pertanian Milenial(DPM)/Duta petani Andalan (DPA). Dengan menjadi salah satu bagian dari DPM membuat Jatu mendapatkan banyak teman dari berbagai provinsi. Sekaligus memperluas jaringan relasi Jatu, termasuk mereka yang siap mendukung dan mengembangkan kerjasama di sektor pertanian, terlebih lagi di bidang ekspor produk. Jatu juga berkomitmen untuk membagikan ilmu dan kesuksesannya dengan para pemuda pemudi di pedesaan. Referensi: IDN Times, Warta Ekonomi  

Eratani / 21 Juli 2022

Perbedaan Harga Pupuk Subsidi dan Non-Subsidi, Beda Kualitas?

Penggunaan pupuk dalam pertanian sangat penting karena pupuk merupakan sumber nutrisi untuk tanaman dan juga dapat menjaga tanaman dari serangan hama. Namun, di lapangan petani seringkali kesulitan dalam membeli pupuk karena tidak memiliki modal yang cukup. Secara umum, pupuk subsidi merupakan seluruh jenis pupuk yang penyaluran dan pengadaannya memperoleh subsidi dari pemerintah. Produsen pupuk bersubsidi merupakan perusahaan yang resmi ditunjuk oleh pemerintah. Produsen mendapatkan bantuan dana dari pemerintah untuk pengadaan pupuk yang bersubsidi sehingga pupuk dapat dijual dengan harga lebih murah kepada petani. Dengan disparitas harga yang cukup tinggi antara pupuk subsidi dan non-subsidi, apakah kualitas yang ditawarkan sepadan? Simak perbedaannya di bawah ini! 1. Lama Penyerapan Perbedaan dalam kualitas juga bisa dilihat, jika membandingkan kedua pupuk ini. Pupuk subsidi cenderung menyebabkan masa penyerapan yang lebih lama, dan berbeda dengan pupuk non subsidi. Hal ini dikarenakan kandungan bahan, dimana pupuk subsidi cenderung memiliki kandungan yang sama. Sedangkan pupuk non subsidi biasanya lebih bervariasi, sehingga penyerapan yang disebabkan lebih cepat. 2. Perbedaan Harga dan Target Pasar Harga pupuk subsidi cenderung lebih murah dibandingkan pupuk non-subsidi karena pendanaan yang berasal dari pemerintah, dibanding pupuk non subsidi. Biasanya, perbedaan harga berselisih sekitar kurang lebih Rp3000,00 per kilogram. Selain itu, pupuk bersubsidi biasanya diperuntukkan petani yang tergabung dalam kelompok tani dan telah terdaftar dalam sistem e-RDKK sedangkan pupuk non-subsidi ditargetkan untuk perusahaan atau pelaku usaha. 3. Warna dan Kemasan Pupuk Secara fisik, perbedaan yang dapat dilihat adalah dari warna kedua pupuk. Warna pupuk subsidi dan non-subsidi dibuat berbeda, guna meminimalisir terjadi penyelewengan dalam penggunaan pupuk subsidi. Contoh yang dapat diambil adalah pupuk urea subsidi cenderung memiliki warna merah muda atau pink, sedangkan pupuk urea non-subsidi berwarna putih. Perbedaan selanjutnya terletak pada kemasan pupuk tersebut. Kemasan pupuk subsidi memiliki ciri pada karungnya, yaitu terdapat tampilan logo Pupuk Indonesia di bagian depan karung dan bertuliskan ‘Pupuk Bersubsidi Pemerintah’. 4. Kualitas Pupuk Meski harga pupuk non-subsidi cenderung lebih mahal, namun kualitas yang ditawarkan pupuk non-subsidi mampu menghasilkan panen yang berlimpah ruah jika tanaman dirawat dengan baik. Oleh karena itu, untung yang didapat mampu menutupi harga beli pupuk yang dikeluarkan di awal. Pupuk non-subsidi juga terjamin mutunya karena memiliki ijin edar yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian. Perbedaan harga tentu berpengaruh pada kualitas yang didapatkan. Namun, apapun pilihan pupuknya, sudah sepatutnya tanaman dirawat dan dibudidayakan secara maksimal. Maju terus pertanian Indonesia!  Referensi: Neura Farm, Saprotan Utama  

Eratani / 21 Juli 2022

Lahan Pertanian Semakin Kesini Semakin Sempit, Kenapa Ya?

Apakah kamu sadar di beberapa daerah di Indonesia lahan pertanian semakin sempit? Jika kita lihat dari banyaknya penyebab lahan pertanian semakin sempit, penyebab utamanya adalah karena, perubahan fungsi lahan atau istlahnya adalah alih fungsi lahan. Sehingga hal ini menyebabkan lahan pertanian seperti sawah, berubah menjadi lahan yang tidak produktif. Makin sempitnya lahan pertanian tentu ditandai dengan berkurangnya aktivitas produksi pertanian, dari awalnya ada kegiatan usahatani kemudian berubah menjadi kegiatan lain diluar usahatani. Akibat dari alih fungsi lahan pertanian, tidak jarang petani yang beralih profesi karena, dinilai tidak menguntungkan atau seringkali rugi. Mayoritas petani yang beralih profesi, bekerja pada industri dan pabrik. Atau ada yang melakukan urbanisasi ke kota. Penyebab lahan pertanian menjadi sempit diantaranya adalah pembangunan perumahan pada lahan pertanian. Bertambahnya jumlah penduduk berbanding lurus dengan kebutuhan tempat tinggal. Sehingga, bisnis properti atau perumahan semakin membludak. Petani yang diimingi harga tinggi akhirnya menjadi tergoda untuk menjual sawah miliknya kepada developer.  Lalu penyebab lainnya adalah pendirian pabrik di daerah pedesaan sehingga, lahan pertanian banyak yang diambil alih. Murahnya biaya tenaga kerja di pinggiran kota tentu berpengaruh terhadap biaya produksi yang rendah. Maka tak jarang pada beberapa daerah di Indonesia, lahan pertanian berubah menjadi kawasan pabrik.  Kemudian, lahan pertanian dibebaskan untuk projek pemerintah. Seringkali proyek pemerintah seperti jalan tol, bandara, sekolah, atau yang lainnya “memaksa” petani untuk melepasnya. Semakin banyak proyek setiap tahunnya, maka akan semakin banayk pula lahan pertanian yang beralih fungsi.  Referensi: Belajartani.com  

Eratani / 21 Juli 2022

Drone: Teknologi Canggih Untuk Revolusi Sektor Pertanian

Kemajuan teknologi saat ini semakin berkembang pesat. Berbagai inovasi teknologi mulai bermunculan dan meningkatkan efektivitas tenaga dan waktu secara signifikan. Di sektor pertanian, inovasi bibit, benih, teknik pertanian, efektivitas produksi pertanian, sampai permodalan oleh fintech (financial technology) hadir dan menjawab berbagai permasalahan petani. Salah satu teknologi yang membawa perubahan drastis adalah penggunaan drone. Pemanfaatan drone digunakan di berbagai bidang perekonomian, mulai dari manufaktur hingga pertambangan. Tidak terkecuali pertanian, dimana drone dapat digunakan untuk meningkatkan efektifitas hingga penghematan biaya produksi, SDM, dan waktu. Drone adalah pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV), dimana alat ini tak membutuhkan awak namun tetap dikendalikan oleh pilot. Bentuk dari drone dibuat menyerupai pesawat dan juga helikopter. Drone mampu dikendalikan serta memiliki kemampuan terbang yang cukup tinggi dan juga jauh. Drone merupakan teknologi yang mengandalkan IoT (Internet Of Things) dan AI (Artificial Intelligence) atau biasa disebut kecerdasan buatan. Penggunaan drone pada sektor pertanian memiliki banyak manfaat, diantaranya: Memantau kondisi tanaman Drone telah dilengkapi dengan peralatan khusus yang disebut Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) menggunakan informasi warna terperinci untuk menunjukkan kesehatan tanaman. Dengan teknologi tersebut, para petani dapat memantau pertumbuhan tanaman, memberikan pemetaan lapangan yang akurat, mendeteksi hama hingga area yang kosong sehingga dapat mempercepat penanganan masalah.  Efisiensi sistem irigasi Drone dapat menangkap informasi terkait kesehatan tanah Anda dengan sangat akurat termasuk masalah kelembaban tanah. Sebagai hasilnya, air dapat didistribusikan dengan cara yang paling efisien yakni dengan mengatur jumlah air yang dibutuhkan tanaman. Menghemat waktu dan tenaga Drone memiliki jangkauan yang sangat jauh tanpa mewajibkan pemiliknya untuk hadir di sana. Dengan demikian, pengguna drone dapat menghemat waktu dan meningkatkan frekuensi pemantauan. Kini, pemantauan di daerah terpencil yang memakan waktu berjam-jam dapat diselesaikan dalam beberapa menit saja. Penggunaan drone dapat membantu petani dalam mewujudkan apa yang dikenal sebagai pertanian presisi, memanfaatkan sumber daya yang lebih sedikit untuk hasil yang lebih banyak. Pemanfaatan drone dapat membantu pekerjaan petani demi mewujudkan petani Indonesia sejahtera. Referensi: MAX Indonesia, Kementerian Pertanian  

Eratani / 21 Juli 2022

Peran IT Dalam Sektor Pertanian Di Era Industri 4.0

Di era industri 4.0, informasi teknologi (IT) berperan penting dalam segala bidang. Informasi teknologi memudahkan manusia dalam memproduksi, mengolah data dan menyebarkan informasi, tak terkecuali sektor pertanian. Kata ‘pertanian’ dan ‘Indonesia’ seakan tak terpisahkan karena, tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia merupakan negara agraris. Oleh karena itu pertanian memegang peranan penting dalam memajukan perekonomian masyarakat Indonesia. Sektor pertanian Indonesia tidak pernah lepas dari permasalahan yang setiap tahunnya selalu menjadi hambatan bagi para petani. Salah satu permasalah sektor pertanian di Indonesia adalah mengenai teknologi pertanian. Menurut Dedi Nursyamsi, selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), menyebutkan bahwa inovasi teknologi berikut sumber daya manusia dan infrastruktur menjadi faktor penting dari efisiensi dan daya saing di sektor pertanian. Ia mengaskan bahwa perlunya SDM yang andal dan profesional dalam mengimplementasikan inovasi teknologi di lapangan.  Beliau juga menambahkan bahwa tenaga penyuluh pertanian harus meningkatkan kemampuan diri (upgrade) dalam bidang informasi teknologi (IT) dan penerapan teknologinya. Sehingga pada era industri 4.0 seperti saat ini, dengan terciptanya teknologi informasi pada sektor pertanian, menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dengan cara kerja yang efisien. Sebagai contoh adalah teknologi sensor. Teknologi sensor dapat memberikan data yang konkrit dan real time terhadap para petani. Teknologi sensor yang sedang dikembangkan saat ini adalah teknologi sensor bagi tanaman yang memanfaatkan drone untuk mendapatkan beragam data, seperti pertumbuhan hama, penyakit, dan permasalahan lainnya. Teknologi ini banyak dikembangkan di pertanian tanaman hortikultura dalam skala besar. Dengan adanya teknologi ini, penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya dapat lebih terarah dan efisien, sehingga mengurangi dampak negatif bagi lingkungan. Dengan adanya peran IT dalam sektor pertanian maka diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas hasil pertanian, serta memudahkan bagi para pengelola sektor pertanian untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal. Referensi: Pertanianku, Agricsoc   

Eratani / 21 Juli 2022