Ayo Mulai Hargai Jasa Petani Indonesia, Karena Mereka Perut Kita Terpenuhi

Eratani / 21 Juli 2022

Di jaman sekarang, pernahkah kamu mendengar ada anak yang ketika ditanya cita-citanya ia menjawab dengan lantang ingin menjadi seorang petani? Rasanya sudah tidak pernah lagi terdengar. Di dalam kedudukan sosial, seorang petani kerap ditempatkan di posisi yang rendah. Pernahkah kamu merasa miris akan hal ini? Bukankah selama ini merekalah yang bekerja keras di bawah terik matahari demi sebutir nasi berkualitas untuk mengisi perut kita? Bukankah apa yang mengisi perut kita setiap harinya berasal dari mereka? Lalu pernahkah kita menghargai jasa mereka?

Bukan hanya nasi, tapi juga sayuran dan buah-buahan yang kita konsumsi berasal dari kerja keras para petani. Di mulai dari menanam benih hingga tumbuh dan siap untuk dipanen. Lebih parahnya lagi, mayoritas petani Indonesia tidak memiliki lahan mereka sendiri untuk bertani. Sementara itu, sebagian besar dari kita lebih suka dan bangga terhadap bahan pangan impor yang kita beli sebagai wujud dari gaya hidup modern.

Dilihat dari segi kualitas, tentu bahan pangan dari Indonesia yang dihasilkan oleh para petani Indonesia juga tidak kalah saing dengan kualitas dari luar. Bahkan pekerjaan sebagai petani terancam punah di Indonesia. Miris sekali bukan? Padahal Indonesia adalah negara berlabel agraris. Banyak generasi muda tidak ingin menjadi petani karena dianggap kurang bergengsi. Padahal petani adalah pekerjaan yang sangat mulia dengan segala jasa yang mereka lakukan. 

Mereka adalah pahlawan bagi perut kita, bagi hidup kita. Karena hanya mereka yang rela bekerja keras setiap harinya di bawah terik matahari hanya demi menghasilkan bahan pangan untuk negara. Mulai saat ini, ayo kita hargai jasa mereka dengan membeli bahan pangan dari Indonesia. Karena mereka kita bisa kenyang, begitu pula sebaliknya, dengan kita membeli hasil pangan dari Indonesia maka mereka juga akan bisa kenyang dan hidup lebih layak.

Referensi: IDN Times
 

Daftar Sebagai Petani
Bagikan Postingan Ini

Lihat Artikel Lainnya

Beda Dari Yang Lain, Petani Muda Ini Gandrungi Budidaya Empon-Empon

Muhamad Atik Rudianto, pria berusia 25 tahun asal desa Karang Gede, Kecamatan Arjosari, Pacitan yang memilih pilihan hidup menjadi seorang petani muda. Ia ini menentukan pilihan pada sektor pertanian sebagai bisnisnya, satu diantaranya dengan budidaya empon-empon. Rudi membudidayakan berbagai rempah dapur atau empon-empon seperti lengkuas, temulawak dan kunyit. Ia membaca peluang bisnis empon-empon masih cukup prospektif. Awal mulai usahanya ini ketika Rudi dan ayahnya pada suatu waktu mengunjungi lahan pertanian miliknya yang memiliki luas sekitar 0.5 Ha dan melihat masih banyak lahan yang menganggur.  Lantas ia berpikir bahwa ini bisa menjadi kesempatan yang bagus bagi anak muda sepertinya. Sebab, saat ini tidak banyak anak muda yang melirik sektor pertanian sebagai lahan bisnis. Rudi dan sang Ayah memulai usaha ini sejak tahun 2018 dengan penuh semangat. Setiap panen Rudi mampu menghasilkan empon-empon sekitar 5 – 9 kwintal. Omzet kotor hingga Rp2-2,5 juta. Rudi mengatakan, bahwa budidaya empon-empon ini terbilang mudah karena perawatannya tidak sulit dan kecil kemungkinan gagal panen. Rudi yang juga berprofesi sebagai GTT (Guru Tidak Tetap) di salah satu SD di desanya ini juga sempat bercerita saat dia memulai membudidayakan empon-empon. Menanam lengkuas menjadi pilihannya karena tidak memerlukan modal terlalu besar ketimbang jenis empon-empon lainnya. Setelah lengkuas Ia lantas menanam kunyit dan temulawak. Usahanya ini masih terus berkembang, saat ini juga mulai menanam jahe di sebagian lahan miliknya.  Di masa pandemi seperti saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit orang yang mencari tanaman herbal atau minuman herbal berkhasiat lainnya untuk dikonsumsi guna meningkatkan imunitas tubuh. Pengetahuan tradisional dalam memanfaatkan tanaman sebagai sumber obat-obatan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Jamu berkembang berdasarkan pengalaman kumulatif dalam pengobatan masyarakat sejak zaman nenek moyang kita. Perkembangan obat tradisional semakin pesat juga karena ditunjang dengan pendekatan ilmiah untuk pembuktian khasiat, keamanan, maupun teknik pengolahannya. Rudi bersyukur bahwa di era yang seperti ini dengan status usia yang masih terbilang muda, ia mampu melihat peluang untuk mengembangkan bisnisnya untuk meningkatkan perekonomian keluarganya.  Referensi: Halo Pacitan, BPTP Balitbangtan Kalimantan Selatan  

Eratani / 21 Juli 2022

Favorit Warga +62, Ini Alasan Orang Suka Makan Nasi

Indonesia merupakan negara yang kaya dan penuh akan sumber daya alam. Mulai dari kebutuhan primer, sekunder, dan tersier kita, semua dapat kita nikmati karena adanya keindahan warisan dari negara kita. Salah satunya adalah beras. Nasi sudah menjadi makanan pokok untuk rakyat Indonesia turun temurun. Setiap hari dan dalam bentuk apapun, masyarakat Indonesia mengolah berbagai jenis hidangan berbahan dasar nasi. Bahkan seringkali kita mendengar ungkapan, bahwa orang Indonesia “belum kenyang jika belum makan nasi”. Hal ini menunjukan, bahwa budaya mengkonsumsi nasi merupakan sebuah kewajiban untuk rakyat Indonesia. Tapi kira kira, kenapa rakyat Indonesia memilih nasi sebagai makanan pokok? Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan hamparan sawah yang luas di pulau-pulaunya. Indonesia berhasil memanen padi dalam jumlah yang tinggi. Nasi adalah makanan termudah yang ditemukan orang Indonesia. Adapun ketersediaan padi dan beras yang berlimpah di Indonesia juga merupakan dampak dari orde baru yang terjadi pada tahun 1970 hingga 1980. Saat itu, pemerintah di masa orde baru memberikan investasi besar untuk sektor pertanian. Tidak heran sejak saat itu produksi beras dan padi berlimpah di Indonesia. Hal ini pun menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Ada banyak manfaat dari mengonsumsi nasi karena nasi merupakan sumber energi dan mengandung tiamin yang berguna untuk membantu metabolisme karbohidrat. Selain itu, nasi juga mengandung magnesium sebagai komponen penting dalam membentuk struktur tulang dan juga dapat mengatur kontraksi otot. Namun, tetap saja ada resiko dari kebiasaan mengkonsumsi nasi secara berlebihan. Nasi putih merupakan jenis nasi yang paling banyak beredar di Indonesia. Perlu diketahui bahwa mengkonsumsi nasi putih yang berlebih dapat memicu kenaikan berat badan bahkan menyebabkan diabetes. Maka dari itu, sangat disarankan untuk mengontrol porsi makan nasi terutama bagi lansia. Referensi: Kompas, Tribun Style

Eratani / 21 Juli 2022

Ayo Mulai Hargai Jasa Petani Indonesia, Karena Mereka Perut Kita Terpenuhi

Di jaman sekarang, pernahkah kamu mendengar ada anak yang ketika ditanya cita-citanya ia menjawab dengan lantang ingin menjadi seorang petani? Rasanya sudah tidak pernah lagi terdengar. Di dalam kedudukan sosial, seorang petani kerap ditempatkan di posisi yang rendah. Pernahkah kamu merasa miris akan hal ini? Bukankah selama ini merekalah yang bekerja keras di bawah terik matahari demi sebutir nasi berkualitas untuk mengisi perut kita? Bukankah apa yang mengisi perut kita setiap harinya berasal dari mereka? Lalu pernahkah kita menghargai jasa mereka? Bukan hanya nasi, tapi juga sayuran dan buah-buahan yang kita konsumsi berasal dari kerja keras para petani. Di mulai dari menanam benih hingga tumbuh dan siap untuk dipanen. Lebih parahnya lagi, mayoritas petani Indonesia tidak memiliki lahan mereka sendiri untuk bertani. Sementara itu, sebagian besar dari kita lebih suka dan bangga terhadap bahan pangan impor yang kita beli sebagai wujud dari gaya hidup modern. Dilihat dari segi kualitas, tentu bahan pangan dari Indonesia yang dihasilkan oleh para petani Indonesia juga tidak kalah saing dengan kualitas dari luar. Bahkan pekerjaan sebagai petani terancam punah di Indonesia. Miris sekali bukan? Padahal Indonesia adalah negara berlabel agraris. Banyak generasi muda tidak ingin menjadi petani karena dianggap kurang bergengsi. Padahal petani adalah pekerjaan yang sangat mulia dengan segala jasa yang mereka lakukan. Mereka adalah pahlawan bagi perut kita, bagi hidup kita. Karena hanya mereka yang rela bekerja keras setiap harinya di bawah terik matahari hanya demi menghasilkan bahan pangan untuk negara. Mulai saat ini, ayo kita hargai jasa mereka dengan membeli bahan pangan dari Indonesia. Karena mereka kita bisa kenyang, begitu pula sebaliknya, dengan kita membeli hasil pangan dari Indonesia maka mereka juga akan bisa kenyang dan hidup lebih layak. Referensi: IDN Times  

Eratani / 21 Juli 2022