Perbedaan Harga Pupuk Subsidi dan Non-Subsidi, Beda Kualitas?

Eratani / 21 Juli 2022

Penggunaan pupuk dalam pertanian sangat penting karena pupuk merupakan sumber nutrisi untuk tanaman dan juga dapat menjaga tanaman dari serangan hama. Namun, di lapangan petani seringkali kesulitan dalam membeli pupuk karena tidak memiliki modal yang cukup. Secara umum, pupuk subsidi merupakan seluruh jenis pupuk yang penyaluran dan pengadaannya memperoleh subsidi dari pemerintah. Produsen pupuk bersubsidi merupakan perusahaan yang resmi ditunjuk oleh pemerintah. Produsen mendapatkan bantuan dana dari pemerintah untuk pengadaan pupuk yang bersubsidi sehingga pupuk dapat dijual dengan harga lebih murah kepada petani. 

Dengan disparitas harga yang cukup tinggi antara pupuk subsidi dan non-subsidi, apakah kualitas yang ditawarkan sepadan? Simak perbedaannya di bawah ini!

1. Lama Penyerapan
Perbedaan dalam kualitas juga bisa dilihat, jika membandingkan kedua pupuk ini. Pupuk subsidi cenderung menyebabkan masa penyerapan yang lebih lama, dan berbeda dengan pupuk non subsidi. Hal ini dikarenakan kandungan bahan, dimana pupuk subsidi cenderung memiliki kandungan yang sama. Sedangkan pupuk non subsidi biasanya lebih bervariasi, sehingga penyerapan yang disebabkan lebih cepat.

2. Perbedaan Harga dan Target Pasar
Harga pupuk subsidi cenderung lebih murah dibandingkan pupuk non-subsidi karena pendanaan yang berasal dari pemerintah, dibanding pupuk non subsidi. Biasanya, perbedaan harga berselisih sekitar kurang lebih Rp3000,00 per kilogram. Selain itu, pupuk bersubsidi biasanya diperuntukkan petani yang tergabung dalam kelompok tani dan telah terdaftar dalam sistem e-RDKK sedangkan pupuk non-subsidi ditargetkan untuk perusahaan atau pelaku usaha.

3. Warna dan Kemasan Pupuk
Secara fisik, perbedaan yang dapat dilihat adalah dari warna kedua pupuk. Warna pupuk subsidi dan non-subsidi dibuat berbeda, guna meminimalisir terjadi penyelewengan dalam penggunaan pupuk subsidi. Contoh yang dapat diambil adalah pupuk urea subsidi cenderung memiliki warna merah muda atau pink, sedangkan pupuk urea non-subsidi berwarna putih. Perbedaan selanjutnya terletak pada kemasan pupuk tersebut. Kemasan pupuk subsidi memiliki ciri pada karungnya, yaitu terdapat tampilan logo Pupuk Indonesia di bagian depan karung dan bertuliskan ‘Pupuk Bersubsidi Pemerintah’.

4. Kualitas Pupuk
Meski harga pupuk non-subsidi cenderung lebih mahal, namun kualitas yang ditawarkan pupuk non-subsidi mampu menghasilkan panen yang berlimpah ruah jika tanaman dirawat dengan baik. Oleh karena itu, untung yang didapat mampu menutupi harga beli pupuk yang dikeluarkan di awal. Pupuk non-subsidi juga terjamin mutunya karena memiliki ijin edar yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian.

Perbedaan harga tentu berpengaruh pada kualitas yang didapatkan. Namun, apapun pilihan pupuknya, sudah sepatutnya tanaman dirawat dan dibudidayakan secara maksimal. Maju terus pertanian Indonesia! 

Referensi: Neura Farm, Saprotan Utama
 

Bagikan Postingan Ini

Lihat Artikel Lainnya

Beda Dari Yang Lain, Petani Muda Ini Gandrungi Budidaya Empon-Empon

Muhamad Atik Rudianto, pria berusia 25 tahun asal desa Karang Gede, Kecamatan Arjosari, Pacitan yang memilih pilihan hidup menjadi seorang petani muda. Ia ini menentukan pilihan pada sektor pertanian sebagai bisnisnya, satu diantaranya dengan budidaya empon-empon. Rudi membudidayakan berbagai rempah dapur atau empon-empon seperti lengkuas, temulawak dan kunyit. Ia membaca peluang bisnis empon-empon masih cukup prospektif. Awal mulai usahanya ini ketika Rudi dan ayahnya pada suatu waktu mengunjungi lahan pertanian miliknya yang memiliki luas sekitar 0.5 Ha dan melihat masih banyak lahan yang menganggur.  Lantas ia berpikir bahwa ini bisa menjadi kesempatan yang bagus bagi anak muda sepertinya. Sebab, saat ini tidak banyak anak muda yang melirik sektor pertanian sebagai lahan bisnis. Rudi dan sang Ayah memulai usaha ini sejak tahun 2018 dengan penuh semangat. Setiap panen Rudi mampu menghasilkan empon-empon sekitar 5 – 9 kwintal. Omzet kotor hingga Rp2-2,5 juta. Rudi mengatakan, bahwa budidaya empon-empon ini terbilang mudah karena perawatannya tidak sulit dan kecil kemungkinan gagal panen. Rudi yang juga berprofesi sebagai GTT (Guru Tidak Tetap) di salah satu SD di desanya ini juga sempat bercerita saat dia memulai membudidayakan empon-empon. Menanam lengkuas menjadi pilihannya karena tidak memerlukan modal terlalu besar ketimbang jenis empon-empon lainnya. Setelah lengkuas Ia lantas menanam kunyit dan temulawak. Usahanya ini masih terus berkembang, saat ini juga mulai menanam jahe di sebagian lahan miliknya.  Di masa pandemi seperti saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit orang yang mencari tanaman herbal atau minuman herbal berkhasiat lainnya untuk dikonsumsi guna meningkatkan imunitas tubuh. Pengetahuan tradisional dalam memanfaatkan tanaman sebagai sumber obat-obatan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Jamu berkembang berdasarkan pengalaman kumulatif dalam pengobatan masyarakat sejak zaman nenek moyang kita. Perkembangan obat tradisional semakin pesat juga karena ditunjang dengan pendekatan ilmiah untuk pembuktian khasiat, keamanan, maupun teknik pengolahannya. Rudi bersyukur bahwa di era yang seperti ini dengan status usia yang masih terbilang muda, ia mampu melihat peluang untuk mengembangkan bisnisnya untuk meningkatkan perekonomian keluarganya.  Referensi: Halo Pacitan, BPTP Balitbangtan Kalimantan Selatan  

Eratani / 21 Juli 2022

Favoritt Warga +62, Ini Alasan Orang Suka Makan Nasi

Indonesia merupakan negara yang kaya dan penuh akan sumber daya alam. Mulai dari kebutuhan primer, sekunder, dan tersier kita, semua dapat kita nikmati karena adanya keindahan warisan dari negara kita. Salah satunya adalah beras. Nasi sudah menjadi makanan pokok untuk rakyat Indonesia turun temurun. Setiap hari dan dalam bentuk apapun, masyarakat Indonesia mengolah berbagai jenis hidangan berbahan dasar nasi. Bahkan seringkali kita mendengar ungkapan, bahwa orang Indonesia “belum kenyang jika belum makan nasi”. Hal ini menunjukan, bahwa budaya mengkonsumsi nasi merupakan sebuah kewajiban untuk rakyat Indonesia. Tapi kira kira, kenapa rakyat Indonesia memilih nasi sebagai makanan pokok? Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan hamparan sawah yang luas di pulau-pulaunya. Indonesia berhasil memanen padi dalam jumlah yang tinggi. Nasi adalah makanan termudah yang ditemukan orang Indonesia. Adapun ketersediaan padi dan beras yang berlimpah di Indonesia juga merupakan dampak dari orde baru yang terjadi pada tahun 1970 hingga 1980. Saat itu, pemerintah di masa orde baru memberikan investasi besar untuk sektor pertanian. Tidak heran sejak saat itu produksi beras dan padi berlimpah di Indonesia. Hal ini pun menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Ada banyak manfaat dari mengonsumsi nasi karena nasi merupakan sumber energi dan mengandung tiamin yang berguna untuk membantu metabolisme karbohidrat. Selain itu, nasi juga mengandung magnesium sebagai komponen penting dalam membentuk struktur tulang dan juga dapat mengatur kontraksi otot. Namun, tetap saja ada resiko dari kebiasaan mengkonsumsi nasi secara berlebihan. Nasi putih merupakan jenis nasi yang paling banyak beredar di Indonesia. Perlu diketahui bahwa mengkonsumsi nasi putih yang berlebih dapat memicu kenaikan berat badan bahkan menyebabkan diabetes. Maka dari itu, sangat disarankan untuk mengontrol porsi makan nasi terutama bagi lansia. Referensi: Kompas, Tribun Style

Eratani / 21 Juli 2022